Sesi 1 : Pak Ari , penjelasan mengenai PLTSA.
Mengapa ITB bisa terlibat dalam menangani permasalahan sampah?
Pemerintah Kota Bandung meminta pada bappenas untuk mendirikan WTE (waste to energy-PLTSa) di bandung. Membutuhkan dana 500 M. Kemudian pemkot meminta ITB dalam studi kelayakan. ITB mendapat tekanan dari alumni. Awalnya dari alumni PLN akan membiayai WTE skala kecil di ITB.
Karena pemkot tidak mempunyai dana, maka berpartner dengan PT BRIL ( PT Bandung Raya Indah Lestari) yang berperan dalam bidang sektor properti.
Yang terlibat dalam pembuatan ini adalah 1 tim yang cukup besar.
Latar belakangnya adalah TPA kota bandung yang ditutup, sehingga pembuangan sampah di tempat lain akan membutuhkan waktu lama dan birokrasi yang panjang.
Tujuan dari studi kelayakan (Feasibility Studies-FS) adalah aspek teknologi, financial dan legal. Studi dengan meneliti limbah yang ada sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Karena mempunyai latar belakang dalam konversi energy, maka kami dipanggil untuk membuat FS. Dalam aspek legal tidak kompeten maka kami mengadakan workshop.
Sesi 2 : Pak Taufiq yang meninjau dari amdal.
Amdal tidak dapat diperlihatkan karena masih milik PT BRIL
Latar belakang : system penanganan sampah kota bandung. Semua TPA di kota bandung akan di tutup. WTE adalah salah satu solusi untuk mereduksi sampah sampai dengan 5 % dari volume asal. WTE pemusnah sampah modern yang dilengkapi dengan peralatan kendali pembakaran dan system monitor emisi gas buang yang kontinu, dan terkendali.
Sampah kota bandung yang ditangani sekitar 500-700 ton.
-lihat skema gambar PLTSa Bandung
Sampah akan dibakar suhu ±850 derajat.
Gas hasil pembakaran digunakan menguapkan uap air.. kemudian gas tersebut langsung didinginkan agar tidak terbentuk dioxin.
Gas tersebut akan diolah agar tidak menimbulkan dampak pencemaran
Sisa pembakaran :
1. Bottom ash 5% dari total volume
2. Fly ash 0,15% dari total volume
Bottom ash biasanya digunakan untuk bahan bangunan/ lapisan dasar jalan raya.
Operasional PLTSa : pada awal, menggunakan bahan bakar minyak, 850 derajat sampah dimasukkan. Berjalan 7800 jam selama 1 tahun. PLTSa itu sendiri mempunyai 2 tungku yang dapat digilir.
Sampah tidak akan dipilah, dengan asumsi : sampah yang datang sudah dipilah oleh pemulung.
Hasil studi Pak Ari : sampah 30% diambil oleh pemulung. Diatas dari persentase daur ulang sampah di negara2 lain.
Sampah harus heterogen, tercampur rata. Pasokan sampah sejenis tidak boleh lebih dari 50% dari jumlah sampah yang akan di bakar.
Sampah yg tidak boleh masuk ke PLTSa :
1. Limbah kimia
2. > 500kg
3. Potongan beton
4. Bahan yg dapat meledak
5. Potongan besi
6. Cairan yg mudah terbakar
7. Tepung halus
8. Limbah medis
9. Sisa pengolahan Limbah cair
Sampah yg harus diproses (dipotong-potong kecil-kecil) :
1. Container aerosol
2. Ban mobil
3. Kayu
4. Wadah solvent
FS Pak Ari merupakan pra-syarat dari PLTSa, sehingga kajian amdal menjadi lebih gampang.
Lingkup kajian amdal :
1. Kualitas udara
2. Kuantitas air tanah
a. Imbuhan air tanah
3. Geomorphology
a. amblesan
4. Sosekbud
a. Lapangan kerja
b. Kesempatan berusaha
c. Mata pencaharian
d. Pendapatan
e. Kependudukan
f. Harga tanah
g. Produksi pertanian
h. Keresahan
i. Sikap
j. Keamanan dan ketertiban
5. Kesmas
a. Prevalensi penyakit
b. Sumber air bersih
c. Kesehatan lingkungan
6. Transportasi
a. Antrian
b. Kualitas jalan
c. Frekuensi kecelakaan
Masalah transportasi juga dipelajari karena cukup riskan jika ada antrian sampah di depan PLTSa.
Sesi 3: Pak Mubiar
Ada 6 poin yang dibicarakan:
1. Analisis ekosistem. Menangani masalah sampah bukan hanya mengurangi sampah. Tapi juga melihat ekosistem yang ada dalam sampah. Termasuk siklus di dalamnya. Seperti siklus gas, seperti permasalahan ozon. Oksigen ini generatornya pohon. Siklus udara ini siklus kesehatan dan kehidupan. Siklus air. Bandung sudah teridentifikasi kekurangan air karena kekurangan hutan. Air hujan ¾ nya menguap menjadi awan. Awan dikendalikan dengan temperatur oleh pohon. Air lama menahan awan di puncak bukit, semakin banyak cadangan air. Bandung tidak perlu bendungan buatan tapi perlu bendungan alami berupa pohon. Siklus padatan, yaitu siklus biomassa yang menjadi sampah kota. Hanya 2 proses yang paling bermanfaat yang pertama adalah kompos yang mempercepat penguraian. Yang kedua adalah untuk pakan ternak. Sehingga meningkatkan produktivitas. Pembuatan juga proses pembakaran yang kecil sehingga dapat ditangkap oleh tumbuhan dan miroba.
2. Permasalahan PLTSa adalah masalah pembakaran itu sendiri yang menghasikan emisi panas dan CO2. Emisi panas tidak akan hilang yang akan meningkatkan temperatur kota bandung. Untuk mendinginkannya membutuhkan air.
3. Cerobong asap di kota Bandung yang cekungan tidak akan berfungsi. Masalah cekungan kota bandung belum didiskusikan dan dibicarakan. Cerobong asap berfungsi jika di daerah perbukitan ditanami pohon.
4. Ambang batas. Dioxin di Perancis ditemukan di air susu sapi. Jika ada program yang lebih tidak berbahaya mengapa dipilih program yang lebih berbahaya.
5. Dari masalah investasi. (AMDAL bukan milik perusahaan saja, tapi juga milik publik.) Tidak benar jika menangani masalah sampah hanya dengan perusahaan saja, tapi juga dengan wakil-wakil rakyat karena menyangkut masalah publik.
6. Sampah yang sudah dipilah-pilah akan sangat baik jika dijadikan kompos. Tidak ada keharusan di alam untuk membakar sampah. Yang benar adalah menanggulangi dengan memilah-milah sampah.
